SIBOLGA - KPERS, Setelah banjir surut, warga Sibolga dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa, hamparan kayu besar memenuhi pesisir dan muara sungai membuat wilayah itu seolah berubah menjadi “Pulau Kayu”.
Kota Sibolga sendiri berada di pesisir barat Sumatera Utara, menghadap Samudra Hindia, dengan luas hanya ±10,77 km² sehingga sangat rentan terhadap banjir pesisir dan limpahan material dari hulu.
Fenomena tumpukan kayu ini memperkuat dugaan bahwa material dari hulu terbawa arus saat debit air meningkat.
Ketika banjir surut, seluruh kayu terperangkap di wilayah pesisir dan muara, menyerupai sebuah pulau baru.
Dalam dua dekade terakhir, Indonesia kehilangan lebih dari 10,73 juta hektar hutan primer sejak 2002, penyangga alami banjir dan erosi yang mestinya melindungi kawasan hilir dan pesisir.
Sementara deforestasi netto nasional pada tahun 2024 mencapai 175,4 ribu hektar, dan luas kawasan berhutan menyusut menjadi 95,5 juta hektar.
Kerusakan hulu dan hilangnya tutupan hutan mengurangi kemampuan alam menahan debit air besar. Ketika hujan ekstrem menerjang, efeknya langsung dirasakan kota kecil seperti Sibolga , wilayah sempit yang tidak punya ruang resapan luas.
Hari ini, Jumat (28/11/2025) setelah air surut, Sibolga menjadi Pulau Kayu.
Sebuah tanda alam sedang memperingatkan kita dengan cara yang paling jelas agar kita berupaya menjaga kelestarian lingkungan untuk keseimbangan alam.
(Fatia)
Komentar